Cari Blog Ini

Laman

Jumat, 27 Agustus 2010

Lahirnya Otokritik Dewan


Paripurna Nota APBD-P 2010 Diwarnai Intrupsi

Kisaran, MAHARDIKA
   Sikap otokritik dari anggota DPRD Asahan kini lahir atau mulai bangkit. Terlebih ketika melihat proses perjalanan Rapat Paripurna DPRD Asahan dalam rangka Penyampaian Nota Pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan tahun anggaran 2010 Kabupaten Asahan.
   Dimana paripurna yang dihadiri 36 anggota dewan pada Kamis (26/8) itu, dinilai salah satu anggota DPRD Asahan asal Partai Bintang Reformasi, Ir. Khairul Saleh tidak sesuai dengan pedoman yang disyaratkan dalam peraturan dan perundang-undangan terkait. “Intrupsi pimpinan,” kata Khairul menyela rapat dengan mengacungkan tangan.
   Usai menadapat izin pimpinan, kemudian Khairul memberikan penjelasan. Menurutnya berdasarkan amanat yang dituangkan dalam PP Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, bahwa dalam proses penyusunan APBD (Perubahan) 2010, perlu mengacu kepada mekanisme yang disyaratkan undang-undang.
   Dikatakannya, setelah melalui pembahasan ditingkat legislatif, Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPA-S) APBD Perubahan Tahun 2010 harusnya disepakati lebih dahulu antara eksekutif dan legislativ. Untuk kemudian ditetapkan menjadi KUA dan PPA pada APBD Perubahan tahun anggaran 2010.
   “Maaf ketua, saya menilai bahwa mekanisme tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Ketika pembahasan KUA dan PPAS kemarin belum dilakukan kesepakatan tertulis sehingga saya menilai belum tuntas. Bahkan Bupati tidak hadir pada pembahasan tersebut. Artinya paripurna hari ini tidak punya dasar yang jelas. Sebab PPA yang seharusnya menjadi dasar paripurna hari ini, juga tidak jelas. Harap ketua memberikan klarifikasi,” kata Khairul didepan rapat paripurna.
   Menjawab hal ini, Ketua DPRD Asahan Benteng Panjaitan menjelaskan, sebelumnya dewan sudah selesai membahas KUA dan PPAS disertai kesepahamannya tentang PPA. Namun diakuinya belum ada kesepakatan tertulis yang ditandatangani dalam PPA yang dibuat. Karena ada kekhawatiran tidak bisa dirubah ketika terjadi perubahan pada pembahasan lanjutan. “Saya pikir ini salah komunikasi saja,” katanya.
   Penjelasan Ketua DPRD beberapa kali mendapat sangkalan oleh Khairul Saleh, dengan alasan kiranya harus ada tertib mekanisme dalam setiap pembahasan terkait APBD di dewan. Apalagi APBD menurutnya menyangkut hajat hidup orang banyak. “Mau diteruskan silahkan saja, tapi saya harap mekanisme harus ditegakkan sehingga tidak terjadi kesalahan yang berulang-ulang di dewan ini,” kata Khairul.
   Kondisi ini mengundang intrupsi anggota dewan lainnya dari Sofyan Islamil Sitorus asal Partai Bulan Bintang. Menurutnya pembahsan soal KUA dan PPAS sudah tuntas. Seharusnya tidak diperdebatkan lagi didepan rapat paripurna tersebut. “Saya pikir masing-masing Ketua Fraksi mempunyai tanggungjawab menyampaikan hasil kesepakatan semalam (25/8) kepada anggotanya,” kata Sofyan.
   Melihat debat kusir yang terjadi hampir 7 menit itu, Handi Afran Sitorus dari F-PDIP menyarankan kepada pimpinan rapat untuk menskor waktu. Namun hal ini disangkal oleh Abdul Kholik Harahap dari F-PAN, karena menurut Kholik perdebatan ini tidak perlu diteruskan, dan tidak perlu diskor. Sebab semuanya sudah jelas semalam dibahas. “Diharap pimpinan melanjutkan rapat,” kata Kholik menegaskan.
   Akhirnya perdebatanpun mengendur, dan rapat paripurna dilanjutkan dengan Pidato Bupati Asahan oleh Taufan Gama Simatupang. Dimana saat berpidato Taufan sempat menyela waktu dengan menegur para camat yang dianggap ribut. “Para camat harap tidak ribut, gantian kita berbicara, sekarang saya dulu bicara,” kata Taufan dari atas podium kehormatan. Kemudian diketahui pada pidato itu, bahwa pembiayaan netto pada APBD Perubahan tahun anggaran 2010 Kabupaten Asahan sebesar Rp.82.067.982.140,33. (red)

Keterangan Photo :
PENUH : Sejak Bupati baru, kursi tempat para pimpinan SKPD dan para camat dibahagian belakang terlihat penuh saat rapat paripurna di gedung dewan,  Kamis (26/8). Maski tetap ada Kadis yang belum terlihat, seperti Kadis Pendidikan, Kadis Pekerjaan Umum, dan Kadis Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata. (Photo/ red)

Rabu, 25 Agustus 2010

Bupati Asahan Pinta Petani Pertahankan Kakao


Kisaran, MAHARDIKA
   Perkebunan rakyat percontohan untuk tanaman kakao (coklat) di Kabupaten Asahan bakal bergeser ke Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan. Dimana sebelumnya sejak zaman orde baru, kebun-kebun kakao unggulan itu bermula dari Kecamatan Air Batu dan Kecamatan Air Joman dengan luas areal 11.100,20 Hektare, total produksi pertahun 10.672,70 ton.
   Rencana pergeseran lokasi perkebunan kakao rakyat yang akan dibina menjadi kebun percontohan oleh Pemkab. Asahan ini, terungkap saat kunjungan Bupati Asahan, Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP di Masjid Nurul Firdaus, Dusun V Sumber Sari, Desa Sumber Harapan, Kecamatan Tinggi Raja, baru-baru ini.
   “Saya berharap agar masyarakat tetap mempertahankan potensi daerah ini dengan membudidayakan tanaman kakao,” ungkapnya menegaskan, dalam rangkaian Safari Ramadhan hari ke empat sejak dirinya secara resmi dilantik sebagai Bupati Asahan periode 2010-2015.
   Penegasan itu, disampaikan oleh Taufan mengingat salah satu komoditi andalan Kabupaten Asahan, selain sawit, karet, dan kelapa adalah juga kakao. “Ada empat jenis komoditi andalan yang dimiliki Kabupaten Asahan dan harus tetap dipertahankan. Salah satunya kakao,” katanya yang bertekad akan menjadikan Desa Sumber Harapan sebagai daerah percontohan petani kakao.
   Guna mendukung proses berkembangnya tanaman kakao di desa tersebut, Taufan berjanji kepada masyarakat setempat bahwa pada APBD Tahun 2011 nanti, pihaknya akan segera membenahi sarana jalan yang bisa menghubungkan beberapa kecamatan melintasi Desa Sumber Harapan itu. Baik dari Sumber Harapan menuju Desa Tanjung Alam, Sei Alim Hasak di Kecamatan Sei Dadap meupun menuju Kecamatan Air Batu. Karenanya setiap kegiatan safari ramadhannya, dalam tim selalu dibawa Staf dari Dinas Pekerjaan Umum untuk melihat lebih dekat kondisi jalan di kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Asahan.
   “Saya sangat tahu bahwa banyak petani kakao yang berhasil meningkatkan taraf perekonomian keluarganya di desa ini. Maka kalau sudah berhasil, jangan tinggalkan kakao,” jelasnya sembari mengakui banyak persoalan yang dihadapi oleh petani kakao. Namun dirinya meyakini lambat laun kendala itu akan dapat diatasi.
   Kepada masyarakat, yang sudah mengalih fungsikan lahan tanaman kakaonya kepada tanaman kelapa sawit, ia menyarankan untuk tetap melakukan investasi jangka panjang di lahan tersebut. Yakni menanam tanaman pohon Mahoni disela-sela tanaman kelapa sawit. “Setelah 20-25 tahun, investasi itu akan sangat menguntungkan,” ungkap lelaki yang akrab dipanggil Buya ini. (red)

Minggu, 31 Januari 2010

KARIKATUR

 



BERITA


Caption: Warung Serba Ada (Waserda) di Pasar Tanjung Tiram, yang dibangun Disperindag. Kabupaten Butubara, berbiaya Rp 3 Milyar Lebih (Fhoto diambil Senin (18/1). (F: Subakti).
“Jelimet dan Terkesan Tertutup” 
 Dugaan Korupsi Pembangunan Waserda 
TANJUNG TIRAM, MAHARDIKA

Editorial

Editorial

PENYAKIT LANGKA


Sudah langka, mahal lagi. Begitu yang terjadi terhadap kondisi jual Minyak Tanah (Mitan) dan Gas Elpiji di pasaran sekarang.

Hal ini lebih daripada efek negatif masa peralihan atau konversi dari Mitan ke Gas. Didongkrak atas kecerdasan pengelola bangsa dan pemerintahan secara menyeluruh (dari atas kebawah dan sebaliknya) yang tidak cerdas dan sangat tidak popular.

Serasa kembali ke tahun enam puluhan. Disaat warga antrian panjang demi mendapatkan beras dan ikan asin kepala batu. Mata bathinpun bertanya, adakah ini zaman modern yang memasuki Era Afta, atau zaman purba yang serba sulit dan konvensional yang kekolot-kolotan.

Rakyat terpedaya. Kemodrenan dan kemajuan bangsa atau daerah ini ternyata hanyalah goresan lipstick. Kenyataannya kita tetap sulit, susah, merana, dan tidak sejahtera. Lantunan lagu lawas Bang Oma (Rhoma Irama), “yang kaya makin kaya dan miskin makin miskin” semakin nyata terjadi dipelupuk mata. Tapi ironinya, jarang sekali para penentu kebijakan di republik yang kita cintai ini mau peduli. Mereka terlena dengan jabatan masing-masing, atau asyik bermain politik untuk kepentingan diri pribadi dan kelompoknya.

Oh…Mitan dan gaskoe. Gubsu bilang, katanya ada spekulan dan mafia yang bermain. Tapi siapa ya…?. Kok nggak ketangkep. Atau, jangan-jangan kita semua telah berubah menjadi spekulan dan mafia itu. Satu ide hanya lain pekerjaan saja.

Atau jangan-jangan kita terkadang juga spekulan dan mafianya. Tapi karena orang lebih dahulu jadi spekulan, berarti kitalah yang tertipu. Mungkin suatu saat kita berlomba lebih dahulu jadi spekulannya, lantas orang yang tertipu.

Sekarang di Asahan semuanya akan menjadi serba langka. “Kabupaten Langka”. Air untuk minum dan bersih-bersih, langka. Mitan dan Gas untuk masak, Langka. Sebentar lagi mungkin mencari pemimpin yang tidak mau korupsi atau anti korupsi, juga akan jadi…LANGKA.

Pokoknya yang baik-baik, berbuat yang benar-benar, lambat laun jadi…LANGKA. Orang pintar…LANGKA yang ada dan laku justru kepintaran. Orang bijak…LANGKA, yang banyak justru terlalu bijak atau kebijak-bijakan. Orang peduli…LANGKA, yang muncul ke publik purak-purak peduli.

Tapi sebenarnya Minyak Tanah dan Gas bisa tidak LANGKA. Tapi yang ada, justru dilangka-langkakan. Supaya ada yang untung dan ada yang buntung. Sulit memang, ketika naturalism hati nurani kita telah ternoda. Sehingga bongkahan kelakuan yang terlihat hanyalah kebohongan dan purak-purak saja. Sebab kita jarang menyadari kalau kita telah terserang penyakit…LANGKA. (red)